Setelah 'diubek' semalaman, akhirnya Aku bisa kembali coret-coret di ruang sederhana. Terima kasih Mae. Maklum aja, dalam masalah ini, Aku paling tidak bisa diandalkan. Disamping ngga mahir, Aku orangnya paling ngga betah berlama-lama di depan kompi. Makanya Aku perlu seorang asisten. Mae orang yang tepat untuk diajak kerja dengan benda mati. Gampang aja ngladenin Mae. Kasih aja kompi dengan fasilitas internet plus cemilan. Ngga usah dikasih makan pun, Mae kuat. Kalau udah konsen, jangan pernah coba-coba mendekat. Bisa kena damprat hehehe.
Anyway...makasih atas semuanya. Semoga ngga lupa lagi ID and pass-nya. Maklum sama-sama 'pikun'nya. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa . May Allah guide us to his best way, amen.
Bagaimana Masa Depan si Dedek?
Posted by
Fakhrudin Aziz Sholichin
/
Comments: (0)
Pagi itu (1/6), pukul 05.30 Waktu Kairo, saya terbangun oleh bunyi ring tone tanda SMS masuk ke inbox HP. Tadinya saya agak malas -untuk sekedar membuka mata yang masih mengatup rapat- membaca sms itu. Maklum, semalaman saya begadang. Dan, rasanya baru beberapa menit merebahkan badan. Setelah melihat si pengirim, ternyata beliau adalah partner istimewa saya yang selama ini menjadi 'teman diskusi' yang baik. Beliau salah seorang pejabat tinggi di sebuah instansi pemerintah di Jakarta yang sedang gayeng mendiskusikan isu-isu kegamaan di Tanah Air.
Sontak, kantuk pun hilang. Terlebih lagi ketika membaca isi smsnya. Redaksinya kurang lebih begini, "Aziz, siang ini ada waktu ngga. Keadaan sedang genting. Saya butuh chatting dengan Aziz. Terima kasih sebelumnya". "Hah, ada apa ya?". Sayapun mereply dan mengiyakan ajakan chattingnya. Setelah sholat subuh dan rapi-rapi, saya bergegas ke warnet. Setelah log in, saya melihat YMnya sudah menguning.
"Apa kabar bu", saya memulai pembicaraan pagi itu. Kalimat demi kalimat yang tersusun dalam beberapa baris, menghiasi layar monitor kami. Saat itu, Saya masih terus berusaha menangkap maksud SMS itu. "Di al-Azhar, Aziz belajar apaan sich", tanyanya. Saya sangat maklum dengan pertanyaan itu. Karena sebelum diskusi, nampaknya beliau betul-betul ingin meyakinkan dirinya bahwa beliau tidak salah orang.
"Ziz, putra Ibu sudah lulus dan sekarang hendak melanjutkan jenjang SLTP. Ibu bingung, si Dedek musti dikemanain?. Meski tidak pernah belajar agama, Ibu pengin anak-anak ngerti agama?. Sekolah agama di Jakarta seabrek, tapi belum ada yang sreg di hati Ibu?. Melihat fenomena global di Tanah Air akhir-akhir ini, Ibu selalu was-was dengan si Dedek. Jangan sampai ikut-ikutan jadi teroris hehehe", tanyanya dengan nada setengah serius.
Saya pun mengernyitkan dahi dan menghela napas. Pernahkan anda membayangkan akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Jawabannya tentu saja variatif; bisa iya, bisa tidak.
Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Saya yakin, mereka yang hati nuraninya peka, mungkin merasakan hal aneh dengan pertanyaan itu. Bagaimana tidak. Di saat pemerintah kerepotan mensensus jumlah pesantren dan madrasah di Indonesia, ternyata masih ada seorang warga yang kebingungan mencari lembaga pendidikan yang pas dengan anaknya. Apa yang salah dengan lembaga pendidikan kita?. Saya yakin, masih banyak warga lain yang mempunyai keluhan sama. Ini fakta yang patut kita renungkan. Sayapun terpaku sesaat sambil melototin monitor.
Singkatnya, si Ibu bercerita panjang tentang kegundahan yang beliau alami saat ini. Beliau melihat banyak lembaga pendidikan berlabel Islam yang kualitasnya patut didiskusikan kembali oleh para akademisi. Beliau mencontohkan sebuah pesantren di Jawa Barat. Label Islam sangat mendominasi di sana. Tapi apa yang terjadi?. Para santrinya menjadi over-dosis, ekstrem dan sangat radikal. Mereka tidak bisa mengaplikasikan nilai-nilai keislaman secara baik di masyarakat. Bukan keteduhan dan kedamaian yang Ia tebarkan, tapi semangat permusuhan dengan sesama muslim.
Bahkan, kesan yang beliau tangkap, banyak pelanggaran-pelanggaran normatif yang 'dilegalkan'. Ironisnya, hal itu dibungkus atas nama "Penerapan Syariat Islam". Tanpa maksud menggeneralisir fenomena ini, hal itu bisa menyebabkan trauma yang mendalam bagi masyarakat, utamanya yang awam dengan agama. Sehingga secara langsung akan berimplikasi kepada image lembaga pendidikan agama lainnya.
Sebagian dari kita, seringkali mudah keblinger dengan hal-hal yang berbau agama. Mereka menganggap bahwa itu (baca: agama) adalah segala-galanya. Iya, saya setuju. Tapi pertanyaannya; ajaran agama yang bagaimana?. Kita ogah-ogahan bertanya kepada diri sendiri. Kita seringkali terlalu jauh berjalan dari rel yang semestinya kita lewati. Dengan tanpa menghilangkan daya kritis, saya berani mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama kita. Pemahaman kita terhadap agama itulah yang harus direnungkan. Ketika merampungkan bacaan-bacaan tertentu, membuat kita gelap mata dan merasa paling sholeh dan benar. Sikap toleran (tasamuh) yang diajarkan oleh Rasululullah SAW, tidak pernah diindahkan.
Makanya, ungkapan "More pious Less Tolerant (semakin 'sholeh' seseorang, semakin hilang toleransinya)", tidaklah berlebihan. Bahkan, bagi saya, ungkapan ini sangat cocok untuk merefleksikan fenomena keagamaan di Tanah Air, juga dimana saat ini saya berada; Kairo.
Watak dan karakter seperti inilah, yang saya yakini -perlahan-lahan- akan merusak citra bangsa dan membahayakan masa depan generasi kita. Tidak mustahil, masa depan Indonesia, bahkan dunia, akan dipenuhi oleh generasi-generasi radikal yang tidak bisa menampilkan Islam yang ramah. Dan pada saatnya, Indonesia mungkin diwarnai oleh para 'murabbi' yang banyak 'menjajakan' ayat dan hadits sambil menjanjikan surga berikut bidadari-bidadarinya bagi orang-orang yang mau menjalankan misinya. Meningkatnya peledakan bom, mengindikasikan bahwa gerakan kaum-kaum radikal sudah merajelala dan harus segera dihentikan karena mengancam integritas bangsa. Terlepas, apakah keadaan ini sengaja dihembuskan oleh agen-agen Barat atau tidak, yang jelas ini tanggungjawab kita bersama.
Kita harus berani merunut akar-akar radikalisme yang ada. Faktor-faktor yang menyuburkan tumbuhnya radikalisme harus dimusnahkan. Hal ini, bisa kita mulai dengan pengawasan secara ketat terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam, misalnya madrasah, pondok pesantren, Islamic Center dan sebagainya. Jangan pernah beranggapan bahwa kita hendak mengobok-obok Islam. Kita hanya ingin menyelamatkan generasi muslim dari doktrin-doktrin radikalisme. Dan yang perlu diingat, kita harus sadar bahwa pembelaan terhadap Islam harus dimaknai secara proporsional.
Oleh karenanya, kita harus back to basic memahami teks-teks yang ada (ajaran Islam) secara benar untuk membuat blue print Indonesia ke depan. Kita tidak hendak mendirikan negara islam, tapi kita bercita-cita menjadikan ajaran Islam yang demokratis dan rahmatan lil alamin, menjadi ruh dalam dinamika nasional. Kita berharap Indonesia akan diisi oleh generasi-generasi handal yang kuat fikir dan dzikir. Semoga.
Sontak, kantuk pun hilang. Terlebih lagi ketika membaca isi smsnya. Redaksinya kurang lebih begini, "Aziz, siang ini ada waktu ngga. Keadaan sedang genting. Saya butuh chatting dengan Aziz. Terima kasih sebelumnya". "Hah, ada apa ya?". Sayapun mereply dan mengiyakan ajakan chattingnya. Setelah sholat subuh dan rapi-rapi, saya bergegas ke warnet. Setelah log in, saya melihat YMnya sudah menguning.
"Apa kabar bu", saya memulai pembicaraan pagi itu. Kalimat demi kalimat yang tersusun dalam beberapa baris, menghiasi layar monitor kami. Saat itu, Saya masih terus berusaha menangkap maksud SMS itu. "Di al-Azhar, Aziz belajar apaan sich", tanyanya. Saya sangat maklum dengan pertanyaan itu. Karena sebelum diskusi, nampaknya beliau betul-betul ingin meyakinkan dirinya bahwa beliau tidak salah orang.
"Ziz, putra Ibu sudah lulus dan sekarang hendak melanjutkan jenjang SLTP. Ibu bingung, si Dedek musti dikemanain?. Meski tidak pernah belajar agama, Ibu pengin anak-anak ngerti agama?. Sekolah agama di Jakarta seabrek, tapi belum ada yang sreg di hati Ibu?. Melihat fenomena global di Tanah Air akhir-akhir ini, Ibu selalu was-was dengan si Dedek. Jangan sampai ikut-ikutan jadi teroris hehehe", tanyanya dengan nada setengah serius.
Saya pun mengernyitkan dahi dan menghela napas. Pernahkan anda membayangkan akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Jawabannya tentu saja variatif; bisa iya, bisa tidak.
Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Saya yakin, mereka yang hati nuraninya peka, mungkin merasakan hal aneh dengan pertanyaan itu. Bagaimana tidak. Di saat pemerintah kerepotan mensensus jumlah pesantren dan madrasah di Indonesia, ternyata masih ada seorang warga yang kebingungan mencari lembaga pendidikan yang pas dengan anaknya. Apa yang salah dengan lembaga pendidikan kita?. Saya yakin, masih banyak warga lain yang mempunyai keluhan sama. Ini fakta yang patut kita renungkan. Sayapun terpaku sesaat sambil melototin monitor.
Singkatnya, si Ibu bercerita panjang tentang kegundahan yang beliau alami saat ini. Beliau melihat banyak lembaga pendidikan berlabel Islam yang kualitasnya patut didiskusikan kembali oleh para akademisi. Beliau mencontohkan sebuah pesantren di Jawa Barat. Label Islam sangat mendominasi di sana. Tapi apa yang terjadi?. Para santrinya menjadi over-dosis, ekstrem dan sangat radikal. Mereka tidak bisa mengaplikasikan nilai-nilai keislaman secara baik di masyarakat. Bukan keteduhan dan kedamaian yang Ia tebarkan, tapi semangat permusuhan dengan sesama muslim.
Bahkan, kesan yang beliau tangkap, banyak pelanggaran-pelanggaran normatif yang 'dilegalkan'. Ironisnya, hal itu dibungkus atas nama "Penerapan Syariat Islam". Tanpa maksud menggeneralisir fenomena ini, hal itu bisa menyebabkan trauma yang mendalam bagi masyarakat, utamanya yang awam dengan agama. Sehingga secara langsung akan berimplikasi kepada image lembaga pendidikan agama lainnya.
Sebagian dari kita, seringkali mudah keblinger dengan hal-hal yang berbau agama. Mereka menganggap bahwa itu (baca: agama) adalah segala-galanya. Iya, saya setuju. Tapi pertanyaannya; ajaran agama yang bagaimana?. Kita ogah-ogahan bertanya kepada diri sendiri. Kita seringkali terlalu jauh berjalan dari rel yang semestinya kita lewati. Dengan tanpa menghilangkan daya kritis, saya berani mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama kita. Pemahaman kita terhadap agama itulah yang harus direnungkan. Ketika merampungkan bacaan-bacaan tertentu, membuat kita gelap mata dan merasa paling sholeh dan benar. Sikap toleran (tasamuh) yang diajarkan oleh Rasululullah SAW, tidak pernah diindahkan.
Makanya, ungkapan "More pious Less Tolerant (semakin 'sholeh' seseorang, semakin hilang toleransinya)", tidaklah berlebihan. Bahkan, bagi saya, ungkapan ini sangat cocok untuk merefleksikan fenomena keagamaan di Tanah Air, juga dimana saat ini saya berada; Kairo.
Watak dan karakter seperti inilah, yang saya yakini -perlahan-lahan- akan merusak citra bangsa dan membahayakan masa depan generasi kita. Tidak mustahil, masa depan Indonesia, bahkan dunia, akan dipenuhi oleh generasi-generasi radikal yang tidak bisa menampilkan Islam yang ramah. Dan pada saatnya, Indonesia mungkin diwarnai oleh para 'murabbi' yang banyak 'menjajakan' ayat dan hadits sambil menjanjikan surga berikut bidadari-bidadarinya bagi orang-orang yang mau menjalankan misinya. Meningkatnya peledakan bom, mengindikasikan bahwa gerakan kaum-kaum radikal sudah merajelala dan harus segera dihentikan karena mengancam integritas bangsa. Terlepas, apakah keadaan ini sengaja dihembuskan oleh agen-agen Barat atau tidak, yang jelas ini tanggungjawab kita bersama.
Kita harus berani merunut akar-akar radikalisme yang ada. Faktor-faktor yang menyuburkan tumbuhnya radikalisme harus dimusnahkan. Hal ini, bisa kita mulai dengan pengawasan secara ketat terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam, misalnya madrasah, pondok pesantren, Islamic Center dan sebagainya. Jangan pernah beranggapan bahwa kita hendak mengobok-obok Islam. Kita hanya ingin menyelamatkan generasi muslim dari doktrin-doktrin radikalisme. Dan yang perlu diingat, kita harus sadar bahwa pembelaan terhadap Islam harus dimaknai secara proporsional.
Oleh karenanya, kita harus back to basic memahami teks-teks yang ada (ajaran Islam) secara benar untuk membuat blue print Indonesia ke depan. Kita tidak hendak mendirikan negara islam, tapi kita bercita-cita menjadikan ajaran Islam yang demokratis dan rahmatan lil alamin, menjadi ruh dalam dinamika nasional. Kita berharap Indonesia akan diisi oleh generasi-generasi handal yang kuat fikir dan dzikir. Semoga.
Hikmah di Balik Musibah Itu
Posted by
Fakhrudin Aziz Sholichin
/
Comments: (0)
Baru kemarin mata kita bengkak menyaksikan gempa tsunami memilukan di Aceh dan gempa bumi di Banyuwangi. Sabtu lalu, kita pun kembali terhenyak dengan berita duka yang menghiasi headline bahwa gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter melanda Yogyakarta dan sekitarnya. Berapa trilyun kerugian negara akibat gempa itu. Sensus pun menunjukkan bahwa jumlah duda, janda, anak yatim, pengangguran dan sebagainya meningkat drastis. Ribuan anak-anak terancam masa depannya.
Ya, di antara kita pasti tidak ada yang menginginkan gempa alam ini kembali terjadi. Tapi inilah kenyataannya. Semua ini bak hadiah beruntun dari Allah buat bangsa kita. Kenapa Allah selalu menghadiahi kado itu?. Apakah Allah telah kehabisan kado sehingga kado sejenis yang bisa Ia berikan".
Saya kira tidak. Indonesia adalah negara besar yang harus dibangun dengan jiwa yang besar pula. Dinamisnya konstelasi politik nasional, paling tidak menunjukkan bahwa masih ada kehidupan dalam lingkungan demokrasi kita. Namun, akhir-akhir ini, saya menjadi jengah dengan ulah para elitis yang sok elit dan mlitit.
Mungkin agak ekstrem kalau saya katakan bahwa mereka tidak pernah punya i'tikad baik menyelesaikan persoalan bangsa. Satu sama lain mempunyai target global; "Apapun komentar saya yang penting harus beda dengan dia". Tidak ada sikap legowo dan gentle yang ditunjukkan oleh mereka yang sudah kadung gelap hati dengan embel-embel guru bangsa, tokoh nasional dan sebagainya. Saya sepakat bahwa perbedaan adalah sunnatullah, tapi perbedaan yang bagaimana?. Lantas, sampai kapan hal ini akan berakhir?. Sudahkah kita proporsional dalam mendiagnosa persoalan bangsa?.
Musibah alam yang datang silih-berganti di era pemerintahan SBY ini, merupakan masalah besar yang menyisakan pertanyaan; ada apa di balik semua ini?. Pada saat inilah, para ahli mantra, juru klenik dan primbon harus kerepotan menerima 'tender basah' dari mereka yang merasa bisa mendapatkan keuntungan dari hal ini.
Respon dan komentar yang sama sekali tidak ilmiah sekalipun, seringkali jadi bahan rebutan media massa untuk dipasang headline. Kenapa?, karena hal-hal yang beraroma klenik sangat diminati. Saya teringat apa kata Renald Kasali bahwa hal-hal yang berbau mitos, saat ini, sedang laris-manis di Indonesia. Masyarakat semakin mudah percaya dengan 'keajaiban-keajaiban' yang ditunjukkan sang dukun. Bahkan, seorang politikus ulung pun bisa nglucu ketika merespon gempa di Yogyakarta; "Alam belum bisa menerima secara penuh pemerintahan SBY".
Saya pun tersenyum keheranan. Ini komentar yang sinis dan tendensius. Saat itu, saya hanya berfikir bahwa mungkin dia sedang kehabisan tender dan terkesan memaksakan diri menjual komentar itu ke media massa. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kita membantu pemerintah dalam upayanya meringankan para korban gempa. Tidak kemudian main gebuk di saat musuh lengah. Kalaupun hendak berdebat dan mengkritik, ada waktu tersendiri untuk menyampaikan itu semua dengan tanpa menghilangkan nalar kritisnya.
Pada lain kesempatan, seorang pengamat berkesimpulan bahwa SBY diuntungkan oleh peristiwa alam. Sekalipun dari kacamata politis hal itu bisa dibenarkan; proporsionalkah?. Kalau anda datang ke Istana Presiden menanyakan tentang respon SBY tentang terjadinya gempa, saya jamin yakin haqqul yakin bahwa SBY pun tidak pernah menghendaki ini.
Bangsa kita sedang ketagihan untuk mengulang 'kesuksesan' cita-cita awal reformasi; menggulingkan sebuah rezim. Sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan upaya-upaya kongkrit untuk membenahi permasalahan bangsa. Anda pun bisa mengantongi nama-nama politikus yang begitu 'kebelet' menggulingkan mantan Presiden Soeharto. Tapi, apa kontribusi mereka ketika memegang tampuk pemerintahan; NIHIL.
Bangsa kita kurang serius untuk menggarap agenda-agenda reformasi. Saya jengah dengan komentar-komentar para politikus yang isinya hanya basa-basi politik. Kritik yang terlontar pun, terkesan hanya nyeplos. Dinamika negara kita dipenuhi oleh kebohongan-kebohongan yang sebenarnya sudah kita sadari. Kini, semuanya sudah anti-klimaks. Saatnya kita menata diri dan bersama-sama membangun bangsa.
Mungkin saja, gunung merapi ingin muntah karena muak dengan perilaku bangsa Indonesia. Bumi pun merekah karena tidak tahan dengan drama-drama kelicikan yang dipertontonkan oleh 'srimulat-srimulat' berdasi. Air laut pun ikut muntap, mungkin karena ia ingin segera menggilas kebobrokan-kebobrokan mental para cendekiawan licik atau preman-preman berjubah. Kita sering ditegur oleh Allah, namun kita tidak sadar. Sudah saatnya kita kembali bergandengan tangan membentuk barisan yang solid untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara berjiwa besar. Selamat berdinamika dan berdoa.
Ya, di antara kita pasti tidak ada yang menginginkan gempa alam ini kembali terjadi. Tapi inilah kenyataannya. Semua ini bak hadiah beruntun dari Allah buat bangsa kita. Kenapa Allah selalu menghadiahi kado itu?. Apakah Allah telah kehabisan kado sehingga kado sejenis yang bisa Ia berikan".
Saya kira tidak. Indonesia adalah negara besar yang harus dibangun dengan jiwa yang besar pula. Dinamisnya konstelasi politik nasional, paling tidak menunjukkan bahwa masih ada kehidupan dalam lingkungan demokrasi kita. Namun, akhir-akhir ini, saya menjadi jengah dengan ulah para elitis yang sok elit dan mlitit.
Mungkin agak ekstrem kalau saya katakan bahwa mereka tidak pernah punya i'tikad baik menyelesaikan persoalan bangsa. Satu sama lain mempunyai target global; "Apapun komentar saya yang penting harus beda dengan dia". Tidak ada sikap legowo dan gentle yang ditunjukkan oleh mereka yang sudah kadung gelap hati dengan embel-embel guru bangsa, tokoh nasional dan sebagainya. Saya sepakat bahwa perbedaan adalah sunnatullah, tapi perbedaan yang bagaimana?. Lantas, sampai kapan hal ini akan berakhir?. Sudahkah kita proporsional dalam mendiagnosa persoalan bangsa?.
Musibah alam yang datang silih-berganti di era pemerintahan SBY ini, merupakan masalah besar yang menyisakan pertanyaan; ada apa di balik semua ini?. Pada saat inilah, para ahli mantra, juru klenik dan primbon harus kerepotan menerima 'tender basah' dari mereka yang merasa bisa mendapatkan keuntungan dari hal ini.
Respon dan komentar yang sama sekali tidak ilmiah sekalipun, seringkali jadi bahan rebutan media massa untuk dipasang headline. Kenapa?, karena hal-hal yang beraroma klenik sangat diminati. Saya teringat apa kata Renald Kasali bahwa hal-hal yang berbau mitos, saat ini, sedang laris-manis di Indonesia. Masyarakat semakin mudah percaya dengan 'keajaiban-keajaiban' yang ditunjukkan sang dukun. Bahkan, seorang politikus ulung pun bisa nglucu ketika merespon gempa di Yogyakarta; "Alam belum bisa menerima secara penuh pemerintahan SBY".
Saya pun tersenyum keheranan. Ini komentar yang sinis dan tendensius. Saat itu, saya hanya berfikir bahwa mungkin dia sedang kehabisan tender dan terkesan memaksakan diri menjual komentar itu ke media massa. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kita membantu pemerintah dalam upayanya meringankan para korban gempa. Tidak kemudian main gebuk di saat musuh lengah. Kalaupun hendak berdebat dan mengkritik, ada waktu tersendiri untuk menyampaikan itu semua dengan tanpa menghilangkan nalar kritisnya.
Pada lain kesempatan, seorang pengamat berkesimpulan bahwa SBY diuntungkan oleh peristiwa alam. Sekalipun dari kacamata politis hal itu bisa dibenarkan; proporsionalkah?. Kalau anda datang ke Istana Presiden menanyakan tentang respon SBY tentang terjadinya gempa, saya jamin yakin haqqul yakin bahwa SBY pun tidak pernah menghendaki ini.
Bangsa kita sedang ketagihan untuk mengulang 'kesuksesan' cita-cita awal reformasi; menggulingkan sebuah rezim. Sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan upaya-upaya kongkrit untuk membenahi permasalahan bangsa. Anda pun bisa mengantongi nama-nama politikus yang begitu 'kebelet' menggulingkan mantan Presiden Soeharto. Tapi, apa kontribusi mereka ketika memegang tampuk pemerintahan; NIHIL.
Bangsa kita kurang serius untuk menggarap agenda-agenda reformasi. Saya jengah dengan komentar-komentar para politikus yang isinya hanya basa-basi politik. Kritik yang terlontar pun, terkesan hanya nyeplos. Dinamika negara kita dipenuhi oleh kebohongan-kebohongan yang sebenarnya sudah kita sadari. Kini, semuanya sudah anti-klimaks. Saatnya kita menata diri dan bersama-sama membangun bangsa.
Mungkin saja, gunung merapi ingin muntah karena muak dengan perilaku bangsa Indonesia. Bumi pun merekah karena tidak tahan dengan drama-drama kelicikan yang dipertontonkan oleh 'srimulat-srimulat' berdasi. Air laut pun ikut muntap, mungkin karena ia ingin segera menggilas kebobrokan-kebobrokan mental para cendekiawan licik atau preman-preman berjubah. Kita sering ditegur oleh Allah, namun kita tidak sadar. Sudah saatnya kita kembali bergandengan tangan membentuk barisan yang solid untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara berjiwa besar. Selamat berdinamika dan berdoa.
Permulaan
Posted by
Fakhrudin Aziz Sholichin
/
Comments: (0)
Sebuah permulaan. Semoga menjadi lembaran yang bisa merefleksikan
ide dan asa. Terkadang, menuangkan kata adalah sebuah tuntutan.
Semoga tulisan-tulisan ringan yang ada di media ini, bisa memberikan warna baru
bagi wacana kekinian. Selamat belajar dan berdoa.
ide dan asa. Terkadang, menuangkan kata adalah sebuah tuntutan.
Semoga tulisan-tulisan ringan yang ada di media ini, bisa memberikan warna baru
bagi wacana kekinian. Selamat belajar dan berdoa.

