Excelso Besar Bermodal Optimisme

Menengok Profil Orang-orang Sukses [III]

Ketatnya persaingan, acapkali membuat nyali kita ciut. Cepatnya perubahan, seringkali membuat kita pasrah dengan keadaan. Inilah kenyataan hidup.

Di zaman yang ‎global ini, perubahan bisa terjadi dalam hitungan hari, jam, bahkan detik. Keajaiban acapkali datang dan ‎hadir dalam keseharian kita. Dan mungkin, kita termasuk orang yang sering terperanjat dengan ‎perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat.

Sebagai insan yang beragama, tentu kita harus menghadapinya dengan besar hati. Kalaupun rasa ‎takut sering hadir dan menggelayuti pikiran, itu manusiawi. Namun, lagi-lagi, hal itu bisa menjadi ‎bumerang ketika kita hanya takut dan merasa kerdil di hadapan yang lain. ‎

Kita harus yakin bahwa Allah tidak akan mengingkari janjinya. Janji untuk memberikan kompensasi ‎kepada hamba-Nya yang mau berkreasi. ‎

Bukankah Allah Swt telah berfirman; "Jangan pernah takut dan putus asa akan ‎rahmat Allah" (QS. Azzumar: 53). Pada ayat lain Allah juga menyitir bahwa, "Allah tidak akan ‎merubah nasib hamba-Nya, kecuali ia (hamba) mau –berusaha- merubah dirinya sendiri" (QS. Arra'ad: ‎‎11).

Untuk menguatkan ayat tersebut, Nabi Muhammad Saw bersabda: "Kalian lebih tahu tentang urusan ‎dunia. Maka kuatkan nyali untuk melakukan inovasi-inovasi baru" (Al-Hadits). Dan masih banyak ajaran ‎Rasulullah Saw yang memotivasi kita untuk selalu melakukan kompetisi yang fair.‎

Terang sekali bahwa Islam selalu memacu kita untuk terus berusaha demi melawan tantangan global. ‎Karenanya, kuatkan nyali dan mulailah membuat kerangka untuk mendapatkan perubahan yang berarti. Bangun optimisme dalam diri kita.‎

Marilah kita lihat kisah kedai kopi Excelso -yang dibentuk Grup Kopi Kapal Api- dalam merespon persaingan yang semakin ketat dengan gerai-gerai asing. ‎

Kalau anda menemukan kedai kopi Excelso di beberapa pusat perbelanjaan, itulah gerai kopi terbesar di ‎Indonesia saat ini. Merebaknya kedai kopi asing, seperti Starbucks dan Coffee Bean & Tea Leaf, ‎dianggap sebagai proses yang sangat natural dalam kancah perbisnisan. Karenanya, dengan modal optimisme, Excelso ‎bertekad untuk andil dalam kompetisi itu. ‎

Kedai Excelso adalah pionir kedai kopi Indonesia. Soedomo Margonoto, pemilik Grup Kapal Api, tertarik ‎membuatnya setelah ia melihat banyak kedai kopi di luar negeri. Memang, di sebagian negara maju, ‎minum kopi di coffee shop sudah menjadi bagian gaya hidup. Sehingga bisnis resto kafe menjamur. ‎

Di samping itu, dorongan membuat kedai kopi juga dipicu oleh kenyataan bahwa Grup Kapal Api ‎menguasai bahan mentah kopi. Dalam catatan AC Nielsen, Grup Kapal Api merupakan pemimpin pasar ‎kopi eceran. Kabarnya, pemilik Grup Kapal Api ini dikenal dekat dengan sejumlah pengusaha dan petani ‎kopi. ‎

Nampaknya peluang ini dimanfaatkan dengan sangat baik. Dalam kalkulasi otak manusia, nampaknya ‎sulit sekali untuk menyaingi pesaing-pesaing asing. Di samping 'jam terbang'nya yang sangat tinggi, ‎kedai kopi asing ini punya nyali kuat untuk merebut simpati publik yang western minded, utamanya di ‎kawasan perkotaan. Lagi-lagi, pada level tertentu, tidak ada salahnya seseorang untuk berspekulasi dan ‎merangkai harapan untuk meraih hal yang sama, atau lebih surprise. ‎

Pada awal berdirinya, 1991, banyak yang mengira bahwa Excelso merupakan kedai kopi asing. Citra ‎internasional sengaja dimunculkan dari kata Excelso yang terkesan kebarat-baratan. ‎

Kata Excelso diambil dari kata "so excellent" yang kemudian dibalik pengucapannya menjadi "excellent ‎so", dan disingkat Excelso.‎

Agar bisa menjaring lapisan yang lebih luas, PT Excelso Multi Rasa (EMR) membuat tiga jenis kedai kopi ‎Excelso dengan target pasar dan positioning yang berbeda. Pertama, Kafe Excelso. Ini jenis pertama ‎yang dikembangkan. Targetnya kalangan profesional, eksekutif, dan ekspatriat. Umumnya, Kafe Excelso ‎didesain dengan warna warm dan natural dengan menggunakan warna-warna hitam, marun dan cokelat. ‎Tidak hanya itu. Warna-warna dominan seperti hijau, kuning, biru dan orange, tetap dipakai agar kesan ‎fun sebagai kafe tetap terasa. ‎
Kedua, Excelso Express. Jenis ini dikembangkan dengan positioning sebagai take away coffee shop ‎yang mengedepankan kepraktisan. Kafe ini berbentuk counter atau cart. Menu makanan dan minuman ‎yang ditawarkan terbatas. Penyajiannya pun hanya menggunakan piring dan gelas plastik yang bisa ‎dibuang selepas dipakai. Jenis ini menjadi alternatif bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah. Harga ‎yang dipatok juga terjangkau oleh banyak kalangan. ‎

Ketiga, de' Excelso. Tipe kafe ini paling eksklusif dibanding yang lain. Konsepnya, perpaduan antara kafe ‎dan resto. Pilihan menunya lebih banyak dan berkualitas. Desainnya sangat artistik. Kalau di Kafe ‎Excelso kursinya hanya dari kayu tanpa sofa, di de' Excelso ini semua kursi berlapis sofa yang sangat ‎nyaman. Kesan elitis sangat terasa.‎

Inilah salah satu strategi yang diterapkan manajemen PT Excelso Multi Rasa. Klop sudah. Tentu saja ‎nama Excelso yang kebarat-baratan tidak bisa menjadi jaminan kalau tidak diimbangi dengan strategi ‎pasar yang tepat. ‎

Keberanian manajemen PT Excelso Multi Rasa untuk menghadapi pesaing-pesaing asing, nampaknya ‎tidak sia-sia. Keberanian dan optimisme yang dibarengi dengan strategi yang matang, akan mewujudkan ‎hal-hal yang kadang sulit menurut nalar. ‎

Saat ini, PT Excelso Multi Rasa cukup lega melihat kinerja kedai kopinya, meski pada tahun-tahun awal ‎sempat kesulitan mengedukasi pasar. Dari sisi brand image, merek Excelso cukup dikenal di beberapa ‎kawasan di Indonesia. Di Jakarta, Excelso telah mampu bersaing dengan sangat baik dengan para ‎pesaing asing. Omzetnya, menurut satu sumber, telah mencapai Rp. 50 miliar/tahun. ‎

Point plus dari kedai kopi ini, ia mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh kedai kopi asing, ‎yaitu kemampuan memahami selera konsumen yang mayoritas warga Indonesia. ‎

Anda bisa lihat. Optimisme ternyata menjadi energi besar yang mampu mewujudkan cita-cita. Tidak ada ‎hal yang mustahil. Dengan senantiasa berkeyakinan bahwa ketika Allah memberikan peluang kepada ‎kita, maka Allah akan memberikan jalan kepada kita untuk memanfaatkan peluang yang ada.
‎ ‎
‎-Disarikan dari buku Change-‎

Belajar dari Kegagalan

Menengok Profil Orang-orang Sukses [II]

Mungkin sebagian besar dari kita pernah mencicipi Pizza Hut. Meskipun oleh sebagian kalangan, menu ini dianggap sangat membosankan, namun tetap saja banyak yang menganggap Pizza Hut adalah menu yang sangat istimewa. Apapun alasannya, kita patut memberikan apresiasi kepada Dan Carney dan Frank Carney. Keduanya merupakan tokoh penting (founding father) berdirinya restoran fast food papan atas ini. Karena kegigihannya, dalam waktu sembilan belas tahun, mereka berhasil menjual 3100 outlet seharga USD. 300 juta. Luar biasa.

Muluskah Dan dan Frank mendirikan restoran ini?. Tentu saja tidak. Semua itu bisa tercapai karena ketelatenan dan kegigihan setelah mereka terpuruk .

Bagaimanakah kisah sukses perjalanan dua bersaudara ini melejitkan nama Pizza Hut dalam deretan restoran papan atas?.

Awalnya, Dan dan Frank menerima modal pinjaman dari sang ibu sebesar USD. 600. Kontan, mereka pun membeli beberapa alat seken yang diperlukan. Sisanya dipakai untuk menyewa gerai kecil guna menjajakan Pizza-nya. Hasilnya sungguh mengagumkan. Pada tanggal 15 Juni 1958, berdirilah restoran Pizza pertama di Wichita, Kansas.

Untuk menarik minat pembeli, mereka membagikan Pizza gratis pada malam perdana kepada sejumlah orang yang 'mampir'. Ratusan orang berjubel untuk mendapatkan gratisan. Apa yang terjadi?. Banyak dari mereka yang komplain dan merasa belum cocok dengan Pizza buatannya.

Dalam perkembangannya, hasil produksi mereka sempat merosot tajam. Seiring dengan berjalannya waktu, restoran ini tergilas oleh ketatnya persaingan. Pangsa pasar pun semakin melemah. Faktornya, di samping kualitas Pizza-nya sangat konvensional, lokasi dan dekorasi yang mereka setting, nampaknya membuat pelanggan tidak nyaman. Tidaklah mengherankan ketika mereka melakukan ekspansi ke Oklahoma dan New York, hasilnya nihil. Kerugian yang mereka tanggung luar biasa besar.

Apakah Dan dan Frank putus asa?. Ternyata tidak.

Keadaan ini justru membuat mereka terpacu untuk mempelajari kekurangan-kekurangan yang menyebabkan bisnisnya pailit. Mereka mulai memperkenalkan jenis Pizza yang lebih baik. Dalam waktu yang sangat singkat, Dan dan Frank memperkenalkan jenis Pizza yang lebih tebal dengan bagian luarnya agak keras. Dari sisi dekorasi, ruangan berukuran sempit yang hanya memuat 25 kursi ini, disulap menjadi restoran yang menjanjikan kenyamanan.

Mereka mulai menempelkan papan nama di sisi luar. Karena sempit, papan nama itu hanya bisa memuat 9 huruf. Anda mungkin bisa menebak; kata apa yang pertama mereka tempelkan?. Iya, Pizza adalah kata pertama yang tertempel pada papan nama itu. Masih ada space empat huruf di belakangnya. Mereka bingung untuk mencari kata yang tepat di belakang Pizza. Pada saat itulah, seorang anggota keluarganya datang dan mengusulkan kata Hut -yang berarti gubuk- diletakkan tepat di belakangnya. Mereka setuju.

Lengkap sudah nama restoran itu menjadi Pizza Hut.

Dari sinilah mereka mulai bangkit dengan semangat baru. Berkat kegigihannya setelah mengalami kegagalan, jumlah pelanggan meningkat drastis. Publik pun mengacungi jempol atas kesuksesannya bangkit dari keterpurukan. Seiring dengan meningkatnya kepercayaan publik, Pizza Hut terus melakukan upaya-upaya peningkatan pelayanan, diantaranya dengan menambah layanan Home Delivery. Dengan harapan, masyarakat tetap bisa menikmati Pizza Hut tanpa harus bersusah payah ke luar rumah.

Kini Pizza Hut menjadi salah satu restoran terbesar dan terkenal di dunia. Di AS sendiri Pizza Hut tersebar merata di 7.200 lebih unit. Dan di 90 negara ada sebanyak 12 ribu gerai Pizza Hut dengan jumlah karyawan sebanyak 300 ribu orang.

Dalam setahun ada sekitar 4,2 miliar pembelian pizza. Dalam hitungan minggu, ada sebanyak 11,5 juta pembelian pizza dengan puncak pembelian jatuh pada hari-hari Jumat dan Sabtu.

Anda tahu, apa pesan Frank Carney yang selalu disampaikan kepada staf-stafnya?. "Pizza Hut sukses karena kegagalan. Maka ketika kegagalan terjadi, mampukah kita menyulapnya menjadi energi yang kuat untuk mendorong kita mencapai kesuksesan. Untuk meraih kemenangan, kita harus belajar kalah".

Anda boleh tidak percaya dengan pesan itu. Tapi anda harus tahu bahwa yang mengucapkan pesan itu adalah orang yang pernah mengalami kegagalan dan akhirnya berhasil meraup keuntungan sebesar USD. 300 juta. Sungguh fantastis.

-Disarikan dari berbagai sumber-

Impian Menjanjikan Kemukjizatan

Menengok Profil Orang-orang Sukses [I]

Setiap dari kita mempunyai peluang yang sama untuk mewujudkan impian. Ketika kita terobsesi untuk meraih impian, tanpa kita sadari, hal itu memberikan energi tambahan yang luar biasa. Pepatah kuno mengatakan, "You can if you think you can". Terlukisnya impian dan harapan besar, perlahan-‎lahan akan meretas jalan baru menuju 'terminal akhir'.‎

Bukankah agama selalu menyerukan kepada kita untuk terus berusaha dan pantang ‎menyerah. Keputusasaan adalah hal yang paling dibenci. Karena dianggap meragukan ‎kemampuan Allah Swt. Allah Dzat Pemberi Harapan buat hamba-Nya. Karenanya, selama ‎usaha dan harapan (baca: doa) berjalan seimbang, yakinlah kemukjizatan akan terjadi. Allah telah menyindir kita agar tidak berputus-asa terhadap rahmat-Nya. "Janganlah kalian berputus-asa terhadap nikmat Allah" (QS. Azzumar: 53). Di sisi lain, Rasulullah Saw pun telah memberikan keleluasaan kepada kita untuk berkreasi demi sebuah impian.

Untuk meyakinkan hal di atas, marilah kita tengok sejenak kisah sukses Sanyo yang dibangun karena impian dan harapan yang besar.

Mungkin sebagian besar dari kita adalah pengguna produk Sanyo (misalnya, mesin pompa air, kulkas, setrika, mesin cuci dan alat-alat elektronik lainnya). Tahukah anda; kenapa Sanyo sukses?.


Sanyo memiliki arti tiga samudera, yakni Pasifik, Atlantik, dan Hindia. Kata tersebut ‎dipilih sebagai nama perusahaan yang mengidentikkan sesuatu yang maha luas. Dan itu tepat ‎dengan filosofi manajemen perusahaan Sanyo Electric yang ingin berkembang menjadi ‎sebuah perusahaan besar kelas dunia.

Dalam filosofi manajemennya, Sanyo Electric terobsesi menjadi produsen yang ‎menyediakan segala kebutuhan hidup orang di seluruh dunia. Sanyo mulai melukis mimpi dan memetak harapan besar untuk memberikan produk kualitas tinggi di setiap sudut penjuru dunia. Ia yakin suatu saat konsumen di segala penjuru dunia akan selalu mencari produk-produk sanyo. Hal itu bukan mustahil. Karenanya, istilah Sanyo ‎dianggap paling cocok untuk menggambarkan filosofi manajemen tersebut.

Dari dasar keinginan tersebut, Sanyo kemudian berkembang menjadi perusahaan raksasa. Ini bermula ‎dengan berdirinya Sanyo Electric Works pada 1947, di Osaka, Jepang. Tiga tahun ‎kemudian, yakni pada 1950, perusahaan bernama Sanyo Electric pun berhasil didirikan.

Tiga produk pertama berhasil diluncurkan oleh Sanyo Electric pada awal 1950-an, yaitu lampu generator sepeda, radio plastik, dan mesin cuci. Kemudian jenis produk Sanyo ‎Electric semakin beragam dan terbagi menjadi enam kategori, yaitu peralatan informasi ‎dan komunikasi, alat kebutuhan rumah tangga, peralatan industri dan komersial, ‎perlengkapan elektronik, baterai, serta kategori lain.

Kini perusahaan Sanyo Electric telah berkembang menjadi perusahaan dunia yang cukup ‎disegani. Tak hanya menyuplai sejumlah produk, Sanyo juga memberikan peluang ‎ekonomi kepada penduduk di 26 negara dunia. Grup Sanyo kini memiliki sebanyak 83 ‎perusahaan industri, 37 perusahaan penjualan, dan 38 perusahaan jenis lainnya.

Kita lihat, impian dan harapan yang pernah dilukis Sanyo, kini menjadi kenyataan. Hampir di setiap rumah, kita temukan beragam produk Sanyo.

Karenanya, jangan lelah melukis mimpi. Jangan pernah putus-asa karena harapan yang tak berujung. Yakinlah, tidak ada yang sulit bagi Allah untuk memberikan 'kado surprise' bagi mereka yang mau bermimpi seraya berusaha dan berharap. Selamat bermimpi.

‎-Disarikan dari Harian Republika-‎

Ingin Sukses?. Lakukan Perubahan!.

‎"Tak peduli berapa jauh jalan salah yang anda jalani. ‎Putar arah sekarang juga"‎

Dua kalimat tersebut ditulis oleh Rhenald Kasali, Ketua Program Magister ‎Manajemen (MM) Universitas Indonesia sekaligus pakar komunikasi, pada ‎cover bukunya, "Change; Manajemen Perubahan dan Harapan", yang ‎diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Luar biasa!!!. Kalimat ini simpel ‎namun mampu membangkitkan emosi dan menstimulasi setiap orang yang ‎mendengarkannya untuk selalu melakukan perubahan. Lagi-lagi, beliau ingin ‎menegaskan bahwa perubahan adalah kunci kesuksesan. Hal ini senada ‎dengan apa yang pernah difirmankan Allah Swt: "Sesungguhnya Allah Swt ‎tidak akan merubah nasib hamba-Nya, kecuali hamba itu mempunyai ‎orientasi pada tindakan untuk merubah nasibnya sendiri". (QS. Arra'd: 11). ‎

Menurut Rhenald, untuk menciptakan perubahan, pertama-tama harus ada ‎yang bisa mengajak semua pihak 'melihat'. Itu saja tidak cukup. Mereka yang ‎‎'melihat', belum tentu 'bergerak'. Dan yang 'bergerak', belum tentu bisa ‎'menyelesaikannya' dengan baik.

Perubahan adalah pertanda kehidupan. Saya dibesarkan di lingkungan ‎perkampungan. Setiap hari, saya selalu mencermati aktifitas yang sangat ‎dinamis dan variatif. Pagi hari, Kakak selalu membantu ibu ‎menyiapkan masakan buat 'ganjal perut' sebelum kami ke sekolah dan saya mendapat tugas rutin ‎menyapu halaman yang selalu kotor oleh daun-daun kering yang jatuh dari ‎tangkainya. Adik-adik cukup membereskan tempat tidurnya sembari menyiapkan perlengkapan sekolah. Di jalan-jalan, saya lihat para tetangga hiruk-‎pikuk menuju tempat kerjanya demi sesuap nasi. Mulai dari PNS, bisnisman, sampai dengan penjual krupuk dan 'bakul' getuk.

Dari sampel ini, saya berkesimpulan bahwa aktifitas-aktifitas tersebut ‎menunjukkan adanya kehidupan dan kehidupan ini selalu menuntut adanya perubahan. Anda punya kesimpulan lain?. Silahkan!. ‎

Saya berani mengatakan bahwa perubahan adalah sebuah tuntutan. Ketika ‎kita hidup, tentu saja kita mengidamkan kelayakan, kenikmatan, ‎kenyamanan dan sebagainya. Hanya saja, semua itu bisa didapat dengan ‎perubahan. Karena perubahan akan selalu memberikan harapan; harapan baru untuk mewujudkan impian. ‎

Namun, yang harus kita sadari adalah bahwa harapan itu didapat ‎ketika kita mampu mengadaptasikan diri pada fase perpindahan dari zona ‎kenyamanan (comfort zone) menuju zona ketidaknyamanan (discomfort ‎zone) dan kembali kepada kenyamanan yang lebih surprise. Ini sebuah ‎keniscayaan. Pada fase inilah nasib kita ditentukan. Ketika anda mampu ‎menjalani fase tersebut dengan baik, anda patut untuk mendapatkan medali ‎emas. Sebaliknya, ketika anda tidak mampu menjalani fase demi fase, maka ‎yang terjadi kemudian adalah anda terjebak pada dilema. Mungkin anda ‎terjebak pada kenyamanan yang tidak dinamis dan berakibat sangat ‎menjenuhkan. Mungkin juga, anda terjebak pada fase discomfort zone yang ‎tentu saja bisa dibayangkan betapa menderitanya anda. Karenanya, kita ‎harus bersikap adaptif (selalu bisa menyesuaikan diri) dalam keadaan ‎apapun. ‎

Dinamika manusia bisa digambarkan dengan "Kurva S". Setiap dari kita ‎mempunyai peluang yang sama untuk meraih kesuksesan. Hal itu tergantung ‎kepada usaha yang kita lakukan. Semakin besar 'fee' yang kita keluarkan, ‎semakin besar pula kita meraih hasil. Dan begitu sebaliknya.‎

Kesuksesan tidak bertahan selamanya. Tanpa kita ‎sadari, kehidupan kita selalu dirongrong oleh 'rival-rival' kecil yang sewaktu-‎waktu siap menggantikan posisi kita. Mungkin anda ingat dengan apa yang dilakukan Intel. Pada produk pertamanya, ia meluncurkan Static Random Access Memory (SRAM) 3101 (64 Bit) dan 1101 (1 kilobit) dan seterusnya. Saat itu, tidak ada satu pun pemain lain yang mampu menghalau lajunya. Masalah baru kemudian muncul. Di saat ia meluncurkan DRAM 16 KB, pada waktu yang bersamaan, pemain Jepang, Fujitsu, menerbitkan DRAM 64 KB. Dan ini terjadi berulang-ulang. Dalam waktu sekejap, Intel meredup lantaran kehadiran pesaing berat dari Jepang tersebut. Perlahan-lahan, Intel mulai memperbaiki produksi dan memperkuat infrastruktur. Pada akhirnya, ia mampu meraih kembali masa-masa kejayaan yang pernah dicapai. Lagi-lagi, hanya mereka yang adaptif ‎yang mampu mempertahankan kesuksesan yang telah diraihnya. Menurut ‎Peter Drucker, bahaya terbesar yang mengancam manusia adalah cara ‎berpikir 'kemarin' yang dipakai untuk menyelesaikan masalah 'sekarang'.‎

Kita bisa menilik kisah orang-orang sukses yang patut diteladani. Berkat ‎perubahan, kita mengenal Nabi Muhammad Saw sang Pelopor Kemajuan, ‎Lee Lacocca yang ditendang begitu saja oleh Henry Ford dan menjadi ‎pembaharu di Chrysler yang saat itu nyaris bangkrut serta Harland Sanders ‎sang pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC). Juga,
John Cadbury ‎dengan produksi cokelatnya yang bertaraf internasional dan Suryo Winowidjojo ‎dengan Gudang Garam-nya. Singapura yang berhasil disulap menjadi Negara Metropolis, merupakan 'sentuhan romantis' Lee Kuan Yew. Selain nama-nama di atas, masih ada sederetan ‎profil yang sukses karena perubahan, misalnya Kenneth Wood dengan ‎Kenwood-nya, Swarovsky yang mampu mencetak kristal dengan kualitas ‎tinggi dan Hard Rock Kafe sebagai hasil kerjasama antara Isacc ‎Tigrett-Peter Morton serta Pizza Hut yang lahir dari impian ‎Dank Carney dan Frank Carney. ‎

Anda ragu untuk berubah?. Mulai sekarang, yakinkan diri untuk memiliki ‎obsesi tinggi menjadi bagian dari barisan orang-orang sukses. Mulailah ‎perubahan itu dengan mimpi-mimpi besar. Selamat bermimpi. ‎

Reunian di Kantor Polisi

Untuk kesekian kalinya, saya harus berurusan dengan polisi. Kali ini bukan sebagai tersangka sebagaimana 6 tahun yang lalu dalam peristiwa Terasigate, tapi sebagai saksi kunci atas ulah anak pemilik flat yang pernah saya sewa. Meskipun sudah tidak menempati flat itu, namun saya masih punya tanggung jawab atas urusan-urusan yang berkaitan dengan Tuan Rumah. Dia ditangkap oleh State Security (28/12), pukul 23.30 Waktu Kairo karena kedapatan membawa pisau.

Sebut saja namanya Syarif. Dia memang mempunyai perangai yang kurang bersahabat. Perilakunya cukup meresahkan kami. Banyak ulah yang sudah dibuat; mulai dari menjual perabot-perabot rumah, mencuri HP dan Walkman, minta duit sampai nyelonong masuk rumah dalam keadaan mabuk. Intinya, dia suka bikin gara-gara. Puncaknya, ketika kita hendak pindahan, dia datang dalam keadaan mabuk dan mengkalkulasi kerusakan barangnya selama kita tinggal di situ. Gila !!!. Mark up dana yang dia buat, sungguh tidak masuk akal. Masak kran rusak, dia hargai Le. 350. Padahal, dengan uang Le. 5, kita sudah bisa beli baru.

Yach…urusan dengan orang mabuk sama saja urusan dengan orang gila. Parahnya, malam itu dia membawa pisau yang diambil dari dapur kami dan disimpan di saku belakang. Saat itu, ada 5 orang di dalam rumah. Mereka terkurung di dalam karena kunci pintu dipegang dia. *Suasananya persis drama penyanderaan di Iraq* hehehe

Kawan-kawan yang berada di dalam sangat kalut. Saya yang tinggal bersebelahan dengan TKP, ditelpon oleh seorang kawan yang ikut terkurung. Saya diminta datang karena Syarif minta ini dan itu. Pikir saya, kalau datang, sama saja mencari mati. Entah ada angin apa, yang jelas, begitu mendengar ceritanya, saya langsung menelpon Kedutaan, minta tolong supaya mendatangkan State Security.

Saya pun menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Karena alasan keamanan, saya tidak masuk ke dalam. Maklum. Kita udah saling kenal sejak 5 tahun yang lalu. Jadi kalau ada apa-apa, saya bisa jadi bahan pelampiasan.

Sambil menunggu kedatangan State Security, saya keliling-keliling sekitar TKP. Duh…badan kaku kedinginan karena lupa ngga bawa sarung tangan, perut lapar, pikiran kalut, lupa bawa rokok dll. Pokoknya campur-campur dech ngga karuan.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil Carry berhenti di samping TKP. Dari dalam mobil, keluar seorang pemuda tampan dan tegap dengan pakaian preman. Setelah bincang-bincang, kami baru tahu ternyata itu Intelijen. Setelah dialog sebentar, kami langsung menuju TKP.

Saat itu Syarif pulang ke rumahnya -yang terletak bersebelahan dengan TKP- untuk suatu keperluan. Meski ada kerumunan massa sekitar 10 orang di TKP, namun suasana cukup hening. Tegang. 5 menit kemudian Syarif kembali ke TKP. Nampaknya dia tidak paham kalau ada Intel datang.

Intel mulai beraksi.

Setelah ditanya ini dan itu, termasuk identitas, Syarif melawan. Baru setelah yakin kalau itu intel, dia melunak meskipun sempat berang.

Akhirnya, Syarif dibawa paksa dan dimasukkan ke dalam mobil untuk diproses di Kantor Polisi. Sebagai saksi kunci, saya bersama seorang kawan ikut serta masuk ke mobil. Ada juga petugas Konsuler dari kedutaan yang menemani kami.

Dalam perjalanan, saya sempat bersitegang dengan Syarif. Pasalnya dia menuduh saya dalang di balik semua ini. Kesempatan inilah yang saya manfaatkan untuk 'fight' dengan dia. Maklum dari kemarin saya agak 'chicken' karena takut dia berbuat anarkhis. *Hahahha… beraninya kalau ada dekengan*. Gak apa-apa lah untuk kali ini. Maklum dong, postur saya cukup langsing dan ideal dibanding dia yang sizenya segedhe pemain Smackdown.

Sesampainya di Kantor Polisi, kami mengisi Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Saya sampaikan semua fakta yang ada. Intinya fakta tersebut cukup memberatkan Syarif. Syarif yang berada sekitar 1 Meter dari tempat saya duduk, cukup tegang dan berkali-kali minta maaf. Sesekali, dia mendapat tamparan petugas.

Akhirnya keputusan soal penahanan dan pembebasannya berpulang kepada kami selaku korban. Karena dari tadi bawel, untuk kesekian dia dihadiahi bogem mentah dan dimasukin ke dalam sel. Dalam sel, dia teriak-teriak mengeluh kepalanya pusing. Berkali-kali manggil saya dan berjanji tidak akan berbuat macam-macam lagi. *Dasar ini orang. Kalau ada maunya aja kayak gini*.

Dilema sekali memang. Pikiranku bergejolak antara menahan dan membebaskannya. Kalau dibebaskan, saya takut dia akan berbuat anarkhis. Di sisi yang lain, kalau dia ditahan, 2 hari lagi lebaran. Pastinya dia tidak akan bisa berlebaran. Di samping itu, saya iba setelah melihat kondisi selnya. Sel berukuran 2 x 2 meter tanpa alas lantai dan penerangan itu, cukup menjadi pertimbangan kami. Berkali-kali dia menatap saya dengan iba, merangkul sambil menangis sesenggukan meminta supaya dia dibebaskan. Ini cukup membuat hati saya terketuk.

Setelah minta pertimbangan dari sesepuh yang saat itu menemani kami, juga pertimbangan kemanusiaan, saya pun minta kepada State Security untuk membebaskannya dengan syarat, antara lain jaminan keamanan dan penyelesaian akad rumah.

Setelah menandatangani appointment, proses dilimpahkan ke Polsek guna pendalaman kasus. Syarif pun diborgol.

Saat itu, saya sempat tawarkan uang taksi petugas polisi yang mengantar Syarif. Tapi Syarif menolak. Dia bilang akan bayarin ongkos taksi. "Cari perhatian nich ceritanya".

Ketika taksi berhenti, dia memohon saya untuk ikut serta. Saya menolak karena saya ikut rombongan dari pegawai kedutaan. Lumayan bisa diskusi kecil di mobil. Saya hanya meyakinkannya kalau kami akan menyusulnya.

Setengah jam kemudian, kami sampai di Polsek. Kami sudah mendapati Syarif duduk termangu menunggu kami. Begitu kami datang, kasus ini langsung diproses.

Sambil menunggu salinan berkas, saya jalan-jalan sekitar ruangan. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sel di salah satu sudut ruangan. Anda tahu kenapa?. 6 tahun yang lalu, saya pernah menjadi penghuni di situ selama lebih kurang 10 jam gara-gara sambal terasi. Dasar orang Mesir. Masak terasi dibilang ganja. Jangan-jangan ganja khas Mesir baunya kayak terasi hahahhaha.

Ketika saya sampaikan hal itu, polisi yang bertugas di situ keheranan. Dia pun menerawang ke atas dan menebak, "Kejadiannya sekitar tahun 2000 khan?", tanyanya. "Iya", jawabku sambil mengangguk.

Usut punya usut, ternyata polisi itu yang dulu menyidik saya ketika kasus bakaran terasi. Yach, nganter si Syarif jadinya malah reunian. "Kalau kangen, kamu boleh nginep semalaman dech", candanya sambil menunjuk sel yang sudah berpenghuni. "Syukran", jawabku sambil ketawa

Setelah salinan berkas selesai, saya dan Syarif membubuhkan tanda tangan. Persoalan selesai. Intinya, kami memaafkan dia dan minta kepada pihak yang berwenang untuk membebaskannya.

Begitu mendengar bebas, dia langsung merangkul dan tidak henti-hentinya menciumi saya. Hahahhaha ngeri juga dicium sesama jenis. "Terima kasih Aziz", ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi saya. Matanya berlinang.

Setelah itu kami meninggalkan Polsek pada pukul 02.00 dinihari.

Selamat Idul Adha dan Tahun Baru


SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA
&
TAHUN BARU 2007


Awal yang baik untuk membuka lembaran-lembaran baru
Selamat belajar dan berdoa
Semoga tetap semangat dalam berkarya

Patutkah KIta Berbangga Sebagai Muslim?


Kemarin (23/12), saya datang ke Tarzi (penjahit) di kawasan Down Town. Sehari sebelumnya saya sudah buat appointment via telpon bahwa esok hari saya akan datang pukul 14.00 Waktu Kairo. Karena perjalanan macet, saya terlambat 1 jam. Sesampainya di sana, tiba waktu Ashar. Dia pun nampak buru-buru hendak sholat jamaah di masjid. Dia mengajak saya berjamaah. Tapi karena kondisi saya yang kurang fit karena kecapekan, saya bilang, "Saya istirahat dulu. Kamu duluan aja ntar saya susul".

Setelah selesai semua urusan, saya pamitan. "Kenapa buru-buru. Duduk dulu dong. Gimana kalau kita ngesyai (nge-teh) dulu", sambil mencegah saya yang sudah beranjak dari tempat duduk. "Syukran (terima kasih)", jawabku.

Kita pun akhirnya ngobrol-ngobrol ringan. Dia banyak menanyakan tentang Indonesia. Maklum saja. Sepertinya dia ngga begitu up date dengan perkembangan yang ada. Saya pun memaparkan hal-hal global tentang kondisi Indonesia, misalnya jumlah penduduk Indonesia dan prosentase umat Islam. Juga sistem hukum yang berlaku dan sebagainya.

Saya katakan, "Meskipun muslim Indonesia adalah kaum mayoritas, namun bukan berarti Indonesia menerapkan sistem Islam sebagaimana di Kerajaan Arab Saudi".

"Kenapa bisa seperti itu?", tanyanya keheranan

"Kalau pertanyaannya seperti itu, kenapa juga negaramu (Mesir) yang muslimnya mayoritas sistem hukumnya juga sama dengan kita (Indonesia)", tanyaku

"Ok. Tapi kan kita beda dengan kalian. Kita bangsa Arab dimana al-Quran dan Nabi Muhammad Saw turun kepadanya. Kamu tahu bahasa al-Quran adalah bahasa kita (Arab). Jadi Arab adalah segala-galanya", jawabnya ngotot.

Obrolan yang tadinya ringan dan cair menjadi tegang lantaran saya menyamakan mereka (Arab) dengan kita (Non-Arab).

Saya hanya bisa tersenyum simpul mendengar jawabannya.

"Tidak ada yang hal membedakan antara Arab dan Ajam (Non-Arab). Nabi Muhammad Saw turun di Arab karena orang Arab saat itu bangsat-bangsat", jawabku sambil canda

Dia terdiam dan mukanya memerah.....

"Tapi kamu harus tahu bahwa Bangsa Arab adalah semulia-mulia dan sekuat-kuatnya bangsa dimanapun. Ini sudah nash. Negara-negara Barat ibarat hewan yang tidak bermoral", tambahnya

"Nash yang mana?. Nash yang ada malah mengatakan bahwa Nabi tidak pernah membedakan antara Arab dengan Ajam. Yang membedakan hanya ketaqwaan kita. Kalau kamu bilang Arab kuat, mana buktinya?. Justru yang terjadi sebaliknya. Di tingkat elit, para pemimpin-pemimpin Arab tidak punya bargaining possition dengan Barat. Mereka tunduk dan takut ama Amerika dan Uni Eropa", kataku

"Lihat saja polemik di Palestina. Mana 'gigi' Arab. Ketika Amerika memboikot Hamas, tidak ada negara Arab yang berani 'angkat koper' memberikan suplai dana ke sana. Apakah negara Arab sudah bangkrut?. Tentu saja tidak. Itu karena mereka ditekan Amerika dan Eropa. Sekarang kalau Arab punya bargaining dengan Barat, saya kira hal itu bisa ditangani dengan baik", tambahku.

"Iya itu karena mereka (elit-elit Arab) jauh dari agama. Mereka tidak mau bersatu", sergahnya

"Itulah jawabannya. Jadi jangan bangga dengan kearaban. Kita, baik sebagai orang Arab maupun muslim, masih harus banyak belajar berpolitik. Kalau selamanya kita menutup dialog dengan Barat, kapan kita akan bersaing dengan mereka. Jadi jangan heran kalau selama ini kita ditekan Barat", kataku singkat

"Berarti kamu tidak mempercayai bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang mulia?", tanyanya

"Bukan persoalan percaya atau tidak. Kita kan sedang membincang realita. Kalau realitanya memang Arab itu lemah di mata Barat, mereka harus segera bangkit dong. Jangan hanya masyghul dengan nash. Toh konteks nasnya juga tidak demikian", jawabku.

"Lantas, kenapa kamu ke Mesir. Ini berarti kamu masih mengakui kalau Arab itu lebih hebat dari negaramu", tanyanya dengan nada tinggi

"Hahaha...saya ke sini karena Al-Azhar, bukan karena Mesir. Meskipun banyak kelebihan, saya berani katakan bahwa dalam beberapa hal, Mesir tidak bisa dijadikan sebagai percontohan negara muslim yang baik. Lihat saja sendiri bagaimana parahnya negara Mesir", jawabku agak ketus.

Saya melihat dia semakin bingung dan tegang...

"Ya sudahlah. kapan-kapan kita sambung lagi", ujarku sambil mengakhiri dialog itu

Saya pamitan dan meninggalkan tempat itu.

-----

Kawan-kawan, itu hanya contoh kecil bagaimana cara pandang orang Arab yang seringkali silau dengan kearaban mereka. kita pun demikian. Seringkali dibuat silau oleh kata ISLAM di KTP kita. Kalau dikatakan bahwa Islam adalah segala-galanya dengan segala kemuliaannya dibanding dengan agama lain, saya sepakat sekali. Tapi kita belum pernah serius mengkaji keislaman itu secara baik. Dalam keseharian kita, simbol-simbol dan hal-hal fisik yang selalu kita dahulukan. Pokoknya yang penting Islam dan berbau Arab, tanpa ada usaha serius mengelaborasi nilai-nilai universal Islam dalam dinamika kita.

Lagi-lagi kita harus menyadari bahwa kita tertinggal jauh dari Barat. Ini PR kita bersama. Sikap saling menghormati (tasamuh) dan dialog dengan komunitas lain (Barat) mutlak diperlukan. Makanya kita harus membangun optimisme untuk bangkit dan bersaing secara aktif.

Sikap underestimate berlebihan terhadap Barat juga kurang arif. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ada hal positif yang bisa kita tiru dari Barat, misalnya IT, disiplin, semangat berkarya dan sebagainya.

Semoga kita semakin arif dalam memperkenalkan keislaman kita