Nokia: Menguasai Dunia dengan 'Connecting People'

Menengok Profil Orang-orang Sukses (V)

Para founding father Nokia mungkin tidak pernah mengira bahwa perusahaan kecil yang dibentuknya, berubah menjadi perusahaan raksasa dunia dalam bidang telekomunikasi. Dengan motto; "Connecting People", Nokia mampu memenangkan persaingan dengan perusahaan-perusahaan yang muncul lebih awal, seperti Motorola dan 'memaksa' jutaan manusia untuk memilikinya. Beragam produk Nokia digenggam oleh jutaan manusia, mulai dari kaum birokrat, entrepreneur sampai dengan penjual cendol.

Inovasi-inovasi mutakhirnya memenuhi berbagai etalase toko-toko yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Kenapa?. Karena strategi yang jitu. Strategi tersebut akhirnya menghantarkannya ke kursi 'penguasa' pasar global.

Bagaimana awal kisah kebesaran Nokia?.


Awalnya, Nokia merupakan nama sebuah komunitas yang tinggal di sepanjang hulu sungai Emakoski, Finlandia selatan. Bermula dari tempat penggilingan kayu yang didirikan di selatan Finlandia pada tahun 1865, Fredrik Idestam mendirikan pabrik kertas di pinggiran sungai Emakoski.

Gelombang industri yang melanda Eropa ketika itu memberi angin segar pada usaha kertas milik Idestam. Permintaan kertas meningkat tajam. Finlandia bagian selatan pun menjelma menjadi kawasan industri yang banyak diserbu para pekerja. Keadaan inilah yang melatarbelakangi berdirinya komunitas pekerja bernama Nokia.

Dinamika yang diciptakan oleh komunitas para pekerja ini membuat sejumlah investor 'kepincut'. Finnish Rubber Works merupakan salah satu perusahaan yang tertarik mendirikan pabrik di wilayah komunitas Nokia. Pada 1920-an Rubber Works menggunakan nama Nokia sebagai nama merek produknya yang berupa sepatu, ban, jas hujan, dan perlengkapan industri.

Setelah Perang Dunia II, Finnish Rubber Works membeli saham mayoritas Finnish Cable Works yang bergerak dalam perlengkapan transmisi, telegram, dan jaringan telepon. Perlahan-lahan Rubber Works dan Cable Works duet dalam melakukan konsolidasi hingga akhirnya merger pada 1967. Nama Nokia Group pun muncul sebagai bentuk bergabungnya dua perusahaan milik Finlandia tersebut.

Sejak itu nama Nokia sebagai produk telekomunikasi mulai berkibar. Hal itu bermula dengan dibentuknya departemen elektronik yang menyumbang sebesar tiga persen terhadap total nilai penjualan Nokia Group. Kehadiran departemen elektronik Nokia Group juga memberikan lapangan pekerjaan bagi 460 orang.

Sekitar 1970-an, Nokia berhasil meluncurkan digital switch yang diberi nama Nokia DX 200. Ini adalah bahasa komputer tingkat tinggi dan mikroprosesor intel yang dikembangkan menjadi jaringan infrastruktur Nokia sekarang ini. Pada waktu yang bersamaan Nokia juga berhasil menciptakan jaringan telepon mobil.

Pada 1980-an, Nokia mencapai titik kejayaannya dalam mentransformasikan dirinya sebagai perusahaan besar dengan inovasi-inovasi baru di bidang telekomunikasi. Itu tidak lepas dari sentuhan akurat sang CEO legendaris, Kari Kairamo. Ia dianggap mampu melakukan perubahan fundamental pada tubuh Nokia. Tragisnya, pada 1988, Kairamo meninggal dengan cara bunuh diri. Estafet kepemimpinannya pun diteruskan oleh CEO yang tak kalah cerdiknya, yaitu Jorma Olilla.

Kebesaran Nokia tidak lepas dari kerangka berfikir para 'pendekar'nya yang sangat agresif dalam menentukan kebijakan-kebijakan strategis. Mereka mulai dari mimpi besar bahwa pada saatnya nanti, Nokia tidak hanya berfungsi sebagai alat telekomunikasi yang bisa dimanfaatkan untuk telepon dan SMS. Lebih dari itu, Nokia hendak didesain sebagai alat digital dengan multifungsi sebagai kamera dengan mutu sempurna, games interaktif dengan resolusi tinggi hingga TV mobile. Maka perubahan adalah sebuah keniscayaan.

Impian itu tentu saja bukan tanpa tantangan. Dalam era yang semakin mengglobal, Nokia betul-betul menghemat tenaga untuk menghadapi 'serangan bertubi-tubi' dari musuh-musuhnya yang juga menggeluti bidang telekomunkasi, misalnya Motorola, Samsung, Sony dan sebagainya.

Ciutkah nyali Nokia untuk menghadapi musuh bebuyutannya itu?.

Pejuang sejati tidak akan pernah ciut nyalinya ketika musuhnya semakin beringas. Baginya, pertarungan hanya milik orang-orang gigih. Dan Nokia paham betul dengan potensi yang dimilikinya bahwa ia berada di antara orang-orang yang gigih tersebut. Karenanya, ia tertuntut untuk mengubah pola strategi demi menghadapi tantangan yang ada. Nokia berkeyakinan bahwa strategi yang tepat adalah kunci untuk memenangkan pertarungan.

Apa saja strategi Nokia?.

Pertama, global focus. Nokia cukup paham bahwa ia harus fokus terhadap tantangan yang semakin mengglobal. Dengan demikian, ia tahu apa yang harus dilakukan. Kedua, strategic market-making. Strategi ini untuk untuk mendeteksi dan mendiagnosa setiap detak perubahan dalam peta teknologi selular yang amat dinamis. Inilah yang membuat Nokia terpacu untuk meluncurkan produk dengan sangat variatif. Nokia berkeyakinan pembelilah yang menggaji mereka. Karena itulah Nokia selalu peka terhadap keinginan pasar.

Dua strategi di atas menjadi perfect ketika dipadu dengan strategi ketiga yaitu focus on people. Nokia selalu memperlakukan pengelolaan SDM-nya sebagai isu strategik, dan bukan sekedar pengelola administrasi belaka. Secara berkesinambungan, Nokia selalu berikhtiar untuk membangun respek pada karyawan, membangun iklim dan kultur learning dimana setiap karyawannya didorong untuk saling bertukar informasi dan gagasan-gasasan inovatif. Nokia tidak pernah menganggap karyawan sebagai buruh kasar yang seringkali diperlakukan sewenang-wenang. Justru ditangan merekalah prestise Nokia dipertaruhkan.

Tiga strategi tersebut menjadi kunci; kenapa Nokia berhasil menggenggam dunia dengan aneka seri yang diluncurkan dengan sangat menyenangkan. Sungguh revolusi yang menakjubkan.

Apa yang bisa kita simpulkan dari kisah Nokia ini?.

Nokia besar karena ia percaya dengan janji perubahan (change). Nokia tetap bisa bertahan, karena ia mampu mempertahankan romantisme dengan 'people'. Iya, 'connecting people' membuat Nokia selalu dekat dengan siapa saja.

-Disarikan dari berbagai sumber-

5 comments:

mademoiselle*bee said...

makasih oom, informasinya. ternyata nokia ntuh emang hebat bgt yah! ^^

Fakhrudin Aziz said...

Sama-sama modem. Eh kok modem sich. mademoiselle bee hehehe. Thanks ya comment-nya

ivo said...

Nokia.. nokia.. saya pake motorola

ario dipoyono said...

weleh begitu to kisah hidup Nokia.

Anonymous said...

kak aziz keren. ngefans aku :D.:P