Hikmah di Balik Musibah Itu

Baru kemarin mata kita bengkak menyaksikan gempa tsunami memilukan di Aceh dan gempa bumi di Banyuwangi. Sabtu lalu, kita pun kembali terhenyak dengan berita duka yang menghiasi headline bahwa gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter melanda Yogyakarta dan sekitarnya. Berapa trilyun kerugian negara akibat gempa itu. Sensus pun menunjukkan bahwa jumlah duda, janda, anak yatim, pengangguran dan sebagainya meningkat drastis. Ribuan anak-anak terancam masa depannya.


Ya, di antara kita pasti tidak ada yang menginginkan gempa alam ini kembali terjadi. Tapi inilah kenyataannya. Semua ini bak hadiah beruntun dari Allah buat bangsa kita. Kenapa Allah selalu menghadiahi kado itu?. Apakah Allah telah kehabisan kado sehingga kado sejenis yang bisa Ia berikan".

Saya kira tidak. Indonesia adalah negara besar yang harus dibangun dengan jiwa yang besar pula. Dinamisnya konstelasi politik nasional, paling tidak menunjukkan bahwa masih ada kehidupan dalam lingkungan demokrasi kita. Namun, akhir-akhir ini, saya menjadi jengah dengan ulah para elitis yang sok elit dan mlitit.

Mungkin agak ekstrem kalau saya katakan bahwa mereka tidak pernah punya i'tikad baik menyelesaikan persoalan bangsa. Satu sama lain mempunyai target global; "Apapun komentar saya yang penting harus beda dengan dia". Tidak ada sikap legowo dan gentle yang ditunjukkan oleh mereka yang sudah kadung gelap hati dengan embel-embel guru bangsa, tokoh nasional dan sebagainya. Saya sepakat bahwa perbedaan adalah sunnatullah, tapi perbedaan yang bagaimana?. Lantas, sampai kapan hal ini akan berakhir?. Sudahkah kita proporsional dalam mendiagnosa persoalan bangsa?.

Musibah alam yang datang silih-berganti di era pemerintahan SBY ini, merupakan masalah besar yang menyisakan pertanyaan; ada apa di balik semua ini?. Pada saat inilah, para ahli mantra, juru klenik dan primbon harus kerepotan menerima 'tender basah' dari mereka yang merasa bisa mendapatkan keuntungan dari hal ini.

Respon dan komentar yang sama sekali tidak ilmiah sekalipun, seringkali jadi bahan rebutan media massa untuk dipasang headline. Kenapa?, karena hal-hal yang beraroma klenik sangat diminati. Saya teringat apa kata Renald Kasali bahwa hal-hal yang berbau mitos, saat ini, sedang laris-manis di Indonesia. Masyarakat semakin mudah percaya dengan 'keajaiban-keajaiban' yang ditunjukkan sang dukun. Bahkan, seorang politikus ulung pun bisa nglucu ketika merespon gempa di Yogyakarta; "Alam belum bisa menerima secara penuh pemerintahan SBY".

Saya pun tersenyum keheranan. Ini komentar yang sinis dan tendensius. Saat itu, saya hanya berfikir bahwa mungkin dia sedang kehabisan tender dan terkesan memaksakan diri menjual komentar itu ke media massa. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kita membantu pemerintah dalam upayanya meringankan para korban gempa. Tidak kemudian main gebuk di saat musuh lengah. Kalaupun hendak berdebat dan mengkritik, ada waktu tersendiri untuk menyampaikan itu semua dengan tanpa menghilangkan nalar kritisnya.

Pada lain kesempatan, seorang pengamat berkesimpulan bahwa SBY diuntungkan oleh peristiwa alam. Sekalipun dari kacamata politis hal itu bisa dibenarkan; proporsionalkah?. Kalau anda datang ke Istana Presiden menanyakan tentang respon SBY tentang terjadinya gempa, saya jamin yakin haqqul yakin bahwa SBY pun tidak pernah menghendaki ini.

Bangsa kita sedang ketagihan untuk mengulang 'kesuksesan' cita-cita awal reformasi; menggulingkan sebuah rezim. Sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan upaya-upaya kongkrit untuk membenahi permasalahan bangsa. Anda pun bisa mengantongi nama-nama politikus yang begitu 'kebelet' menggulingkan mantan Presiden Soeharto. Tapi, apa kontribusi mereka ketika memegang tampuk pemerintahan; NIHIL.

Bangsa kita kurang serius untuk menggarap agenda-agenda reformasi. Saya jengah dengan komentar-komentar para politikus yang isinya hanya basa-basi politik. Kritik yang terlontar pun, terkesan hanya nyeplos. Dinamika negara kita dipenuhi oleh kebohongan-kebohongan yang sebenarnya sudah kita sadari. Kini, semuanya sudah anti-klimaks. Saatnya kita menata diri dan bersama-sama membangun bangsa.

Mungkin saja, gunung merapi ingin muntah karena muak dengan perilaku bangsa Indonesia. Bumi pun merekah karena tidak tahan dengan drama-drama kelicikan yang dipertontonkan oleh 'srimulat-srimulat' berdasi. Air laut pun ikut muntap, mungkin karena ia ingin segera menggilas kebobrokan-kebobrokan mental para cendekiawan licik atau preman-preman berjubah. Kita sering ditegur oleh Allah, namun kita tidak sadar. Sudah saatnya kita kembali bergandengan tangan membentuk barisan yang solid untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara berjiwa besar. Selamat berdinamika dan berdoa.

0 comments: